<$BlogRSDUrl$>
A0Z0RA   BLOGGIN
 
siapa?

Nama:Ask me! a0z0ra[at]gmail.com
Suku: Tiong Hoa
Agama: Kristen Katolik
Ras: Mongol
Adat-Istiadat: ikut orang tua
Hobi: denger musik, baca macem2, nulis macem2, nongkrong bareng temen, mendalami iman Kristiani.
Harusnya: pulang Indo, nulis macem2, kerja wartawan budaya, bina keluarga sejahtera, ikutan nongkrong bareng Romo Sandyawan dkk, ikut2 politik buat angkat derajat orang Tiong Hoa dalam hukum.
Ternyata: terdampar di San Diego CA USA, hedon dan hedon dan hedon...
Jadinya: merenungi hidup segan mati tak hendak dengan nulis2 blog



Business & Personal Loans. Great Rates. Prosper.

links
  • FannySurjana.com
    Personal Website

  • Perspektif.net
    Almighty Wimar Witoelar

  • The A. Fatih Syuhud

  • bloggers
  • aman
  • anggi
  • arb3i
  • charles
  • c1ndy83
  • della11
  • gryllidae
  • iben
  • iwriteat
  • just2itsinceimde14u
  • kesatria
  • liasupatra
  • mliauw324
  • pangestu
  • renesule
  • wiser2b


  • romanticlyrics
  • cerpena0z0ra

  • This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Thursday, August 19, 2004

    Untuk dijual 

    Waktu saya masih kecil, setiap Sabtu saya dijadwal oleh orang tua untuk les organ. Letak tempat les organ ini tidak jauh dari rumah, kira-kira jalan kaki 5 menit lewat jalan kecil. Kira-kira sore hari jam 5 sampai jam 6 saya pergi ditemani pembantu. Setelah umur 10 tahunan, saya mulai direlakan pergi sendiri.

    Setiap kali lewat jalan kecil ini, ada 2 sosok manusia bertempat tinggal di tepi trotoar. Lelaki tua dan perempuan tua, mungkin suami istri atau kakak adik, yang kurus hingga tulang-belulangnya bisa terlihat jelas. Pakaian mereka compang-camping, cuma secabik kain untuk menutup badan dan rambut mereka putih awut-awutan. Badan mereka coklat terbakar sinar matahari, muka mereka mencerminkan rasa letih yang luar biasa. Melihat dari barang-barang mereka seperti cangkir dan piring kaleng dan dari lokasi mereka di samping warteg, bisa dibilang bahwa mereka makan sisa makanan para supir bajaj yang kadang mampir di warteg tersebut. Ketika bertemu mereka saya otomatis menundukkan kepala, memalingkan muka dan berjalan menghindari mereka. Namun entah mengapa saya masih bisa menangkap sosok mereka di sudut mata.

    Suatu hari, saya melihat di samping lelaki itu tergeletak beberapa batang kayu. Kayu-kayu itu beragam jenis dan macamnya tapi terlihat jelas bahwa kayu-kayu itu diambil dari sampah. Kemudian, saya mendapati tangan keriput lelaki tua itu sedang sibuk mengasah kayu-kayu dengan pisau. Sedikit demi sedikit, kayu yang diasah semakin banyak dan bentuknya semakin jelas. Lalu minggu berikutnya saya melihat 2 buah roda sebesar roda bajaj di samping perempuan itu. Sambil melanjutkan perjalanan, saya bertanya-tanya apa yang hendak mereka buat.

    Minggu berikutnya, sesuatu itu akhirnya berbentuk. Sebuah gerobak beroda 2, tingginya lebih besar sedikit dari gerobak bakso, lengkap dengan 2 pegangan dan beberapa laci di samping-sampingnya. Dari perawakan lelaki itu yang luar biasa kurus, tidaklah mungkin baginya untuk mendorong gerobak sebesar itu. Timbul pertanyaan baru, untuk apakah mereka membuat gerobak itu?

    Sabtu berikutnya, gerobak itu kini mempunyai warna coklat. Entah dari mana mereka bisa mendapat cat. Di atasnya, terdapat secarik kertas dengan tulisan "Untuk Dijual." Entahkah mereka yang menulis atau mereka meminta orang lain menuliskannya. Sebuah gerobak beroda 2 berwarna coklat untuk dijual. Dalam hati saya bertanya, adakah yang mau beli gerobak sederhana yang dibuat susah payah dari kayu yang diambil dari sampah ini?

    Lelaki dan perempuan itu masih duduk di trotoar di samping gerobak coklat itu. Di mata mereka yang redup terpancar sinar harapan agar gerobak itu bisa terjual. Pernah saya pergoki perempuan itu sedang melap gerobak supaya cat coklatnya masih kelihatan baru walau diterja debu jalanan.

    Berhari-hari. Berminggu-minggu. Masih ada tulisan "Untuk dijual" diatasnya. Kian lama saya menganggap gerobak itu bagian dari keluarga mereka. Saya merasakan simpati menyerang walau masih membuang muka dan pura-pura tak peduli. Benarkah gerobak coklat itu, hasil karya sepasang manusia yang masih ingin berjuang di tepi jalanan Jakarta, tidak berharga sepeserpun? Tak adakah penghargaan untuk jerih payah mereka?

    Setelah beberapa bulan lamanya, tulisan "Untuk dijual" itu kemudian hilang. Perempuan dan laki-laki itu mulai meletakkan cangkir dan piring kaleng di atas gerobak itu. Saya menyimpulkan bahwa mereka sudah menyerah untuk menjual gerobak coklat itu dan berupaya untuk menggunakan gerobak itu sebisanya.

    Lalu tiba saatnya saya tidak melihat perempuan yang biasanya setia di samping laki-laki itu. Kemana perempuan itu? Batin saya menyangkal pikiran terburuk. Sabtu demi sabtu berlalu, dan lelaki itu masih meringkuk sendirian di pinggiran jalan di samping gerobak. Dan saya pun sadar bahwa saya tidak akan pernah melihat perempuan itu lagi.

    Kira-kira 2 bulan kemudian lelaki itu pun tak pernah kelihatan lagi. Gerobak coklat itu masih di trotoar, makin lama makin rapuh. Pertama-tama rodanya hilang. Dan entah kapan tak pernah ada lagi. Mungkin diambil orang.


    Permalink - a0z0ra @ 4:27 PM  |   0 comments

    syndicate me

    XML +del.icio.us

    Subscribe with Bloglines

    search
    Google

    twitter updates!
    follow me on Twitter


    hore!
  • Blogger Indonesia of the week #43
    by A. Fatih Syuhud

  • Pak Gendut & Madona
    published short story

  • Graffiti Gratitude
    published poems

  • nyang okeh
  • Doa Orang Hedon
  • Indonesiaku Indonesia kartupos
  • POWER
  • Agama Segala Bangsa
  • The Celebration of Nothingness
  • Proses Mengulur
  • Gombal
  • Pengharapan
  • Dimana garisnya
  • O, kalian yang tulus dan teguh dalam kesucian
  • Jalankan dan teruskan!
  • Balada si Jelek
  • Cantik itu Relatif?
  • Suara dari Kelompok Lain
  • Misconception about Orang Cakep & Kaya

  • jaman baheula
  • April 2003
  • July 2003
  • August 2003
  • September 2003
  • October 2003
  • November 2003
  • December 2003
  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • February 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • June 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008
  • February 2009
  • March 2009
  • April 2009
  • May 2009
  • June 2009
  • July 2009
  • August 2009
  • September 2009
  • October 2009
  • November 2009
  • December 2009
  • January 2010
  • February 2010
  • March 2010
  • April 2010
  • May 2010
  • June 2010
  • August 2010
  • September 2010
  • December 2010
  • June 2011
  • May 2013
  • December 2014
  • January 2015
  • November 2016