<$BlogRSDUrl$>
A0Z0RA   BLOGGIN
 
siapa?

Nama:Ask me! a0z0ra[at]gmail.com
Suku: Tiong Hoa
Agama: Kristen Katolik
Ras: Mongol
Adat-Istiadat: ikut orang tua
Hobi: denger musik, baca macem2, nulis macem2, nongkrong bareng temen, mendalami iman Kristiani.
Harusnya: pulang Indo, nulis macem2, kerja wartawan budaya, bina keluarga sejahtera, ikutan nongkrong bareng Romo Sandyawan dkk, ikut2 politik buat angkat derajat orang Tiong Hoa dalam hukum.
Ternyata: terdampar di San Diego CA USA, hedon dan hedon dan hedon...
Jadinya: merenungi hidup segan mati tak hendak dengan nulis2 blog



Business & Personal Loans. Great Rates. Prosper.

links
  • FannySurjana.com
    Personal Website

  • Perspektif.net
    Almighty Wimar Witoelar

  • The A. Fatih Syuhud

  • bloggers
  • aman
  • anggi
  • arb3i
  • charles
  • c1ndy83
  • della11
  • gryllidae
  • iben
  • iwriteat
  • just2itsinceimde14u
  • kesatria
  • liasupatra
  • mliauw324
  • pangestu
  • renesule
  • wiser2b


  • romanticlyrics
  • cerpena0z0ra

  • This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Thursday, July 08, 2004

    Kearifan 

    Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi tersohor bernama Zun-Nun.

    Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat
    sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan lain."

    Sang sufi hanya tersenyum; ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, "Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"

    Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu." "Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."

    Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."

    Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."

    Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."

    Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya "para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar" yang menilai demikian. Namun tidak bagi "pedagang emas".

    Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya.

    Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."

    Disadur dari: resonansi@yahoogroups.com


    Permalink - a0z0ra @ 4:33 PM  |   0 comments

    syndicate me

    XML +del.icio.us

    Subscribe with Bloglines

    search
    Google

    twitter updates!
    follow me on Twitter


    hore!
  • Blogger Indonesia of the week #43
    by A. Fatih Syuhud

  • Pak Gendut & Madona
    published short story

  • Graffiti Gratitude
    published poems

  • nyang okeh
  • Doa Orang Hedon
  • Indonesiaku Indonesia kartupos
  • POWER
  • Agama Segala Bangsa
  • The Celebration of Nothingness
  • Proses Mengulur
  • Gombal
  • Pengharapan
  • Dimana garisnya
  • O, kalian yang tulus dan teguh dalam kesucian
  • Jalankan dan teruskan!
  • Balada si Jelek
  • Cantik itu Relatif?
  • Suara dari Kelompok Lain
  • Misconception about Orang Cakep & Kaya

  • jaman baheula
  • April 2003
  • July 2003
  • August 2003
  • September 2003
  • October 2003
  • November 2003
  • December 2003
  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • February 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • June 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008
  • February 2009
  • March 2009
  • April 2009
  • May 2009
  • June 2009
  • July 2009
  • August 2009
  • September 2009
  • October 2009
  • November 2009
  • December 2009
  • January 2010
  • February 2010
  • March 2010
  • April 2010
  • May 2010
  • June 2010
  • August 2010
  • September 2010
  • December 2010
  • June 2011
  • May 2013
  • December 2014
  • January 2015
  • November 2016