<$BlogRSDUrl$>
A0Z0RA   BLOGGIN
 
siapa?

Nama:Ask me! a0z0ra[at]gmail.com
Suku: Tiong Hoa
Agama: Kristen Katolik
Ras: Mongol
Adat-Istiadat: ikut orang tua
Hobi: denger musik, baca macem2, nulis macem2, nongkrong bareng temen, mendalami iman Kristiani.
Harusnya: pulang Indo, nulis macem2, kerja wartawan budaya, bina keluarga sejahtera, ikutan nongkrong bareng Romo Sandyawan dkk, ikut2 politik buat angkat derajat orang Tiong Hoa dalam hukum.
Ternyata: terdampar di San Diego CA USA, hedon dan hedon dan hedon...
Jadinya: merenungi hidup segan mati tak hendak dengan nulis2 blog



Business & Personal Loans. Great Rates. Prosper.

links
  • FannySurjana.com
    Personal Website

  • Perspektif.net
    Almighty Wimar Witoelar

  • The A. Fatih Syuhud

  • bloggers
  • aman
  • anggi
  • arb3i
  • charles
  • c1ndy83
  • della11
  • gryllidae
  • iben
  • iwriteat
  • just2itsinceimde14u
  • kesatria
  • liasupatra
  • mliauw324
  • pangestu
  • renesule
  • wiser2b


  • romanticlyrics
  • cerpena0z0ra

  • This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Wednesday, October 22, 2003

    Cowok-cowok Keren 

    Sabtu, 18 Oktober 2003 09:18
    Cowok-cowok Keren
    Oleh : Ade Armando

    Tampaknya ada persoalan serius dengan logika para pengelola stasiun
    televisi swasta kita. Dalam beberapa bulan terakhir ini, sejumlah
    stasiun kembali memasang informasi ''klasifikasi'' program tatkala
    acara ditayangkan. Yang dimaksud ''klasifikasi'' di sini adalah
    pengkategorian program berdasarkan muatan tayangan yang ditujukan
    untuk membantu penonton lebih selektif memilih tontonan.

    Jadi, ada program yang masuk dalam kategori ''SU'' (semua
    umur); ''BO'' (bimbingan orang tua); serta ''17+'' atau ''DW'' (hanya
    boleh ditonton oleh mereka yang sudah dewasa).
    Pemberian peringatan semacam ini sebenarnya baik.

    Stasiun televisi sepertinya ingin membantu orang tua dalam menentukan
    tayangan mana yang pantas dikonsumsi seluruh keluarga, mana yang
    tidak, dan mana yang kalaupun bisa ditonton anak-anak tapi perlu
    dengan pendampingan orang tua.

    Praktik ini merujuk pada apa yang dikembangkan di Amerika Serikat
    pada pertengahan 1990-an sebagai jawaban terhadap meningkatnya kritik
    yang dilancarkan publik tentang semakin tidak sehatnya tayangan
    televisi bagi anak-anak mereka.

    Namun, saat ini kita melihat bahwa praktik ini diterapkan secara
    serampangan di Indonesia. Salah satu contoh terbaik mungkin adalah
    sinetron Cowok-cowok Keren (CCK )yang ditayangkan RCTI. Sinetron ini
    berfokus pada petualangan seks sejumlah pria kaya Jakarta. Celakanya,
    RCTI menayangkannya pada jam tayang keluarga, dengan rating ''BO''.

    Dengan kata lain RCTI mempersembahkan acara ini kepada penonton semua
    umur, meski dengan peringatan: ''... para orang tua harap mendampingi
    anak-anak lho ....''
    Kita tidak perlu menjadi kritikus seni ataupun ahli pendidikan untuk
    tahu bahwa CCK sejak awal seharusnya tidak pernah tersaji, apalagi di
    stasiun televisi dengan wibawa sebesar RCTI.

    CCK adalah tayangan yang buruk luar biasa. Di sepanjang tayangan,
    hadir perempuan-perempuan yang ditampilkan sebagai kambing:
    berlenggak-lenggok dengan pakaian minim, sok-sok manja dan menggoda,
    serta mengeluarkan pernyataan dungu.

    Dalam salah satu episode, ditampilkan adegan pertandingan catur yang
    bersyarat siapa pun yang kehilangan buah catur harus melepaskan
    pakaian satu per satu. Karena si perempuan memang pandir, sebelum
    pertandingan berakhir, ia sudah harus mananggalkan semua pakaiannya!
    Bagaimana mungkin adegan semacam ini dipersembahkan bagi anak-anak
    Indonesia?

    Kemesuman merajalela di acara ini. Setiap pekan kita disuguhi adegan
    berlangsungnya semacam pesta seks. Ada karakter yang digambarkan
    sebagai ''berganti-ganti pasangan tidur'', memiliki kebiasaan
    menyimpan celana dalam pasangannya, dan yang bicara dengan
    terbuka, ''Seks ada di malam hari; karena itu wanita hanya
    menggairahkan di malam hari.''

    Kaum perempuan juga digambarkan sangat rendah. Bila tidak sebagai
    objek seks, perempuan tampil sebagai makhluk dominan yang menindas.
    Salah satu tokoh perempuan di CCK adalah wanita kaya yang menguasai
    suami, selalu curiga, dan senang memerintah dengan ekspresi penyihir
    dari gunung selatan.

    Suatu kali ia memerintahkan suaminya membawa cucian ke laundry. Sang
    suami dengan wajah memelas mengikuti perintah itu. Sejumlah perempuan
    lain yang mendengarkan percakapan itu, berkomentar, ''Cita-cita Bu
    Kartini juga tidak sejauh ini.''

    Ada pula karakter pembantu yang digambarkan ''merem-melek'' dan
    menelan air liur setiap kali dan membayangkan para perempuan
    berbikini yang lalu lalang di hadapannya. Suatu kali, mungkin karena
    sedemikian terganggunya, ia bicara pada istrinya, ''Malam ini, Mas
    pengen ....'' Dijawab sang istri, ''Nggak bisa, saya lagi palang
    merah.''

    Jadi, tampaknya RCTI memang tidak sungguh-sungguh
    dengan ''klasifikasi'' acara yang mereka susun sendiri. Tapi, mungkin
    juga ada penjelasan lain. Mungkin ini ada kaitannya dengan strategi
    pemasaran. RCTI tahu CCK bukan tontonan keluarga dan akan menuai
    protes.

    Namun, gelombang protes mungkin bisa menjadi promosi gratis. Dan
    dengan menayangkannya beberapa pekan di jam utama, RCTI berharap
    sudah ada cukup banyak fans CCK yang nantinya akan bersedia menonton
    sinetron favoritnya ini bila jam tayangnya dipindahkan menjadi lebih
    malam. Kalau memang ini alasan mereka, betapa menyedihkannya.

    http://www.republika.co.id/berita/kolom/2003/10/18/143443.shtm


    Permalink - a0z0ra @ 11:43 AM  |   0 comments

    syndicate me

    XML +del.icio.us

    Subscribe with Bloglines

    search
    Google

    twitter updates!
    follow me on Twitter


    hore!
  • Blogger Indonesia of the week #43
    by A. Fatih Syuhud

  • Pak Gendut & Madona
    published short story

  • Graffiti Gratitude
    published poems

  • nyang okeh
  • Doa Orang Hedon
  • Indonesiaku Indonesia kartupos
  • POWER
  • Agama Segala Bangsa
  • The Celebration of Nothingness
  • Proses Mengulur
  • Gombal
  • Pengharapan
  • Dimana garisnya
  • O, kalian yang tulus dan teguh dalam kesucian
  • Jalankan dan teruskan!
  • Balada si Jelek
  • Cantik itu Relatif?
  • Suara dari Kelompok Lain
  • Misconception about Orang Cakep & Kaya

  • jaman baheula
  • April 2003
  • July 2003
  • August 2003
  • September 2003
  • October 2003
  • November 2003
  • December 2003
  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • February 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • June 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008
  • February 2009
  • March 2009
  • April 2009
  • May 2009
  • June 2009
  • July 2009
  • August 2009
  • September 2009
  • October 2009
  • November 2009
  • December 2009
  • January 2010
  • February 2010
  • March 2010
  • April 2010
  • May 2010
  • June 2010
  • August 2010
  • September 2010
  • December 2010
  • June 2011
  • May 2013
  • December 2014
  • January 2015
  • November 2016