<$BlogRSDUrl$>
A0Z0RA   BLOGGIN
 
siapa?

Nama:Ask me! a0z0ra[at]gmail.com
Suku: Tiong Hoa
Agama: Kristen Katolik
Ras: Mongol
Adat-Istiadat: ikut orang tua
Hobi: denger musik, baca macem2, nulis macem2, nongkrong bareng temen, mendalami iman Kristiani.
Harusnya: pulang Indo, nulis macem2, kerja wartawan budaya, bina keluarga sejahtera, ikutan nongkrong bareng Romo Sandyawan dkk, ikut2 politik buat angkat derajat orang Tiong Hoa dalam hukum.
Ternyata: terdampar di San Diego CA USA, hedon dan hedon dan hedon...
Jadinya: merenungi hidup segan mati tak hendak dengan nulis2 blog



Business & Personal Loans. Great Rates. Prosper.

links
  • FannySurjana.com
    Personal Website

  • Perspektif.net
    Almighty Wimar Witoelar

  • The A. Fatih Syuhud

  • bloggers
  • aman
  • anggi
  • arb3i
  • charles
  • c1ndy83
  • della11
  • gryllidae
  • iben
  • iwriteat
  • just2itsinceimde14u
  • kesatria
  • liasupatra
  • mliauw324
  • pangestu
  • renesule
  • wiser2b


  • romanticlyrics
  • cerpena0z0ra

  • This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Friday, August 29, 2003

    LAHIRNYA "INTISARI" DAN "KOMPAS" 

    Saat PT Kinta dilanda kemunduran tahun 1963, Auwjong dan Jakob Oetama menerbitkan majalah yang diniatkan untuk membebaskan masyarakat dari keterkucilan informasi. Auwjong dan Jakob agak nyambung karena sejak awal 1960-an, keduanya sama-sama menjadi pengurus Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Juga pernah sama-sama jadi guru dan punya minat besar pada sejarah.

    Isi majalah baru yang disepakati bernama Intisari harus tentang perikehidupan manusia nyata, konkret, dan bukan renungan atau tinjauan abstrak. Bukan pula soal politik yang menjemukan. PT Kinta siap menyediakan fasilitas, termasuk ruang kantor (bekas kantor Star Weekly), layanan administrasi dan sirkulasi. Sebagai payungnya, didirikan Yayasan Intisari.

    Untuk mendapatkan izin, mereka harus ke gedung Kodam di Jln. Perwira, Jakarta. Jakob masuk sendirian, sementara Auwjong yang masih masuk daftar "orang yang tidak disukai pemerintah" menunggu di Opel Caravan-nya yang diparkir jauh-jauh.

    Seperti Star Weekly, Intisari melibatkan banyak ahli. Di antaranya ahli ekonomi Prof. Widjojo Nitisastro, penulis masalah-masalah ekonomi terkenal Drs. Sanjoto Sastromihardjo, atau sejarawan muda Nugroho Notosusanto. Saat itu, pergaulan Auwjong sudah sangat luas. Dia berteman baik dengan Goenawan Mohamad, Arief Budiman, Soe Hok Gie, dan Machfudi Mangkudilaga.

    Intisari terbit 17 Agustus 1963. Seperti Star Weekly, ia hitam-putih dan telanjang, tanpa kulit muka. Ukurannya 14 X 17,5 cm, dengan tebal 128 halaman. Logo "Intisari"-nya sama dengan logo rubrik senama yang diasuh Ojong di Star Weekly. Edisi perdana yang dicetak 10.000 eksemplar ternyata laris manis.

    Kira-kira dua tahun umur Intisari, Ojong dan Jakob menerbitkan Harian Kompas. Saat itu, hubungan antara Intisari dan Kompas mirip-mirip Star Weekly dan Keng Po. Saling membantu, berkantor sama, bahkan wartawannya pun merangkap. Mulanya dipilih nama "Bentara Rakyat". Namun setelah beberapa pengurus Yayasan Bentara Rakyat bertemu Bung Karno, beliau mengusulkan nama "Kompas". Pengurus yayasan - I.J. Kasimo (Ketua), Frans Seda (Wakil Ketua), F.C. Palaunsuka (Penulis I), Jakob Oetama (Penulis II), dan Auwjong Peng Koen (bendahara) - setuju.

    Mereka juga menyepakati sifat harian yang independen, menggali sumber berita sendiri, serta mengimbangi secara aktif pengaruh komunis, dengan tetap berpegang pada kebenaran, kecermatan sesuai profesi, dan moral pemberitaan. Sesuai sifat Auwjong yang selalu merencanakan segala sesuatunya dengan cermat, kelahiran Kompas disiapkan sematang mungkin.

    Soalnya, modal awal mereka cuma Rp 100.000,-, sebagian uang Intisari. Maka, 28 Juni 1965 terbit Kompas nomor percobaan yang pertama. Setelah tiga hari berturut-turut berlabel percobaan, barulah Kompas yang sesungguhnya beredar. Seperti di Intisari, karena alasan politis, nama Auwjong tak dicantumkan di jajaran redaksi.

    Intisari dan Kompas membuat Ojong bersemangat. Pagi-pagi, sebelum pukul 06.30, dia sudah menjemput para karyawan dengan Opel Caravan. Di perjalanan, Auwjong biasa mengajak mereka mengobrol (sebuah modifikasi dari kepemimpinan Khoe Woen Sioe).

    Pukul 07.00 Ojong sudah di kantor. "Jangan datang pukul sembilan, kalau ingin karyawan datang pukul tujuh," cetusnya. Tapi Kompas sendiri awalnya sering terlambat terbit hingga dijuluki komt pas morgen (besok baru datang).

    Dalam rubrik "Kompasiana", 28 Juni 1966, Ojong melukiskan kondisi Kompas tahun pertama. "Dapurnya saja kecil. Sebetulnya numpang pada kakaknya, Intisari. Makanya penuh sesak. Di antara Redaksi dan para pembantunya, terdapat penganut Katolik, Protestan, dan Islam. Salah cetak dalam berita maupun iklan terjadi setiap hari. Maka itu tidak ada ralat. Nanti dalam ralatnya ada salah lagi." Berkat gaya menulisnya yang kadang kocak, kelak "Kompasiana" menjadi salah satu rubrik favorit pembaca.

    Ketika terjadi peristiwa G30S/PKI, Ojong dan Jakob harus mengambil keputusan di saat paling krusial. Pelaku kudeta baru mengeluarkan ketentuan, setiap koran yang terbit harus menyatakan kesetiaan. "Jakob, kita tidak akan melakukannya. Sama saja ditutup sekarang dan mungkin juga menderita sekarang atau beberapa hari lagi," tegas Ojong.

    Pilihan ini terbukti benar karena upaya PKI gagal total. Tanggal 6 Oktober, semua koran yang tak pernah menyatakan setia pada upaya kup boleh terbit kembali. Keruan saja, dalam kondisi langka koran, Kompas mulai dilirik. Beberapa hari kemudian, saat koran-koran mapan terbit kembali, banyak pembaca tetap membeli Kompas, karena telanjur mencintai surat kabar yang baru mereka kenal ini.

    Ojong tidak pernah berambisi membuat korannya bertiras paling tinggi. "Biar orang lain saja yang oplahnya paling besar. Kita menjadi nomor dua terbesar saja," katanya. Jadi, kalau kemudian usaha penerbitannya tumbuh menjadi nomor satu, barangkali karena modifikasi P.K. Ojong terhadap prinsip-prinsip Khoe Woen Sioe dilakukan terlalu sempurna.

    Menjelang akhir hayat, Ojong mulai sadar cara kerja orang lain tak harus sama dengannya. Tak semua orang bisa bekerja sepanjang hari tanpa berhenti sebentar pada saat-saat tertentu untuk beroleh kesegaran baru.

    Tak heran, kematiannya 31 Mei 1980 terasa begitu "mudah". Begitu mendadak, tanpa didahului sakit yang menyiksa. Barangkali memang cuma wartawan "lurus" yang bisa begini, meninggal dengan benda kesayangan (buku) di sampingnya.


    Permalink - a0z0ra @ 2:45 PM  |   0 comments

    Rasialisme Anti Tiong Hoa dan Percobaan Menjawabnya 

    Pramoedya Ananta Toer
    22 Oktober 1998

    Rasialisme anti-Tionghoa terbesar dan pertama kali terjadi pada 1740 jelas hasil permainan kekuasaan Kompeni alias VOC. Sumber-sumber otentik yang dipergunakan Jan Risconi dalam disertasinya Sja'ir Kompeni Welanda Berperang Dengan Tjina (1935) cukup jelas. Sayang dissertasi yang membahas syair berbahasa Melayu aksara Arab ini ditulis dalam bahasa Belanda sehingga untuk masa sekarangan ini agak sulit menjadi sumber rujukan. Kasus 1740 adalah rasialiane anti Tionghoa dari pihak Kompeni, dari pihak kekuasaan orang Barat/Belanda.

    Rasialisme anti-Tionghoa sepanjang tercatat oleh sejarah terjadi pertama kali di Solo, pusat kapital, produksi dan perdagangan batik. Padahal ko-eksistensi damai antara Pribumi dan Tionghoa berjalan mulus sepanjang sejarah. Pada masa ini kekuasaan kolonial sedang mengembangkan politik ethiknya yang dapat menerima terjadinya kebangkitan pada Pribumi. Dengan syarat memang: asal tidak bersifat politik. Jadi sejajar dengan politik massa mengambang OrBa. Seperti halnya pada peristiwa 1740 juga di sini tangan kekuasaan bermain di belakang layar. Ada kemenangan pada gerakan boikot oleh para pedagang Tionghoa terhadap perusahaan-perusahaan raksasa Barat di Surabaya. Pada pihak Pribumi ada kebangkitan dalam bentuk lahirnya Sarekat Islam yang dalam waktu sangat pendek telah menjadi gerakan massa yang meraksasa. Unsur-unsur ini telah dipaparkan dalam karya Sang Pemula, Hasta Mitra, Jakarta 1985. Dari sedikit sumber dan juga langka disebutnya tentang adanya kegelisahan pada penduduk penetap bangsa Barat dan keturunannya terhadap kebangkitan massa Pribumi yang agamanya lain daripada yang mereka anut. Walau penduduk penetap bangsa Barat ini merupakan minoritas sangat kecil namuk bertulangpunggung kekuasaan, kekuasaan kolonial. Dan terjadilah kerusuhan rasial itu.

    Kerusuhan rasial anti-Tionghoa terjadi 4 tahun kemudian di Kudus, 1916. Walau pun kejadiannya jauh lebih besar, meliputi seluruh kota industri rokok ini, disertai pembunuhan di berbagai tempat, namun sebagai peristiwa sebenarnya hanya merupakan edisi kedua dari yang pertama. Beruntunglah bahwa Tan Boen Kim telah membukukan peristiwa ini dengan judul Peroesoehan di Koedoes, 1918. Namun masih ada yang patut disayangkan. Karya yang didasarkan pada pemberitaan pers ini tak sampai mengungkap latarbelakang peristiwa. Tentang ada-tidaknya tangan kekuasaan yang bermain, ia hanya menyesalkan sikap para pejabat setempat, bukan sebagai lembaga kekuasaan.

    Kemudian terjadi peristiwa rasial anti-Tionghoa semasa Indonesia telah merdeka, formal oleh negara, dalam bentuk PP 10-1960. Mengagetkan, mengherankan, mengingat bangsa Indonesia yang mereka ini telah merumuskan aspirasi perjuangan nasionalnya dalam Pancasila. Buku Hoakiau di Indonesia yang diluncurkan sekarang ini, pertama diterbitkan oleh Bintang Press, 1960, tak lain dari reaksi atas PP 10 tsb. Peraturan Pemerintah nomor 10 ini kemudian berbuntut panjang dengan terjadinya tindakan rasial di Jawa Barat pada 1963, yang dilakukan oleh militer Angkatan Darat. Kebetulan pada waktu itu saya "mengajar" di Fakultas Sastra Universitas Res Publika milik Baperki, yang sekarang diubah namanya menjadi Universitas Trisaksi dan bukan lagi milik Baperki. Dari para mahasiswa- mahasiswi, sebagian terbesar WNI keturunan Tionghoa, saya menerima sejumlah informasi tentang perlakuan pihak militer terhadap keluarga mereka yang tinggal di Jawa Barat. Ternyata rasialisme formal ini ditempa oleh beberapa orang dari kalangan elit OrBa untuk meranjau hubungan antara RI dengan RRT, yang jelas, sadar atau tidak, menjadi sempalan perang-dingin yang menguntungkan pihak Barat.

    Yang mengherankan tentang rasialisme anti-Tionghoa ialah: mengapa ini bisa terjadi dalam alam Indonesia Merdeka? Di samping Indonesia memiliki Pancasila bukankah pihak etnik Tionghoa juga punya saham dalam gerakan kemerdekaan nasional sampai pencarian input untuk panitya persiapan kemerdekaan menjelang akhir pendudukan Jepang. Bukankah sumbangannya pada revolusi juga ada, dan tidak semua etnik Tionghoa bergabung dengan Po Ang Tui yang berpihak pada Belanda, sebagaimana halnya tidak semua Pribumi berpihak pada Nica? Juga dalam alam Indonesia merdeka?

    Tentang ini dengan mudah siapa saja dapat mengikuti tulisan Siau Giok Tjhan Lima Jaman, Perwujudan Integrasi Wajar, Yayasan Teratai, Jakarta-Amsterdam Mei 1981. Dalam paparan lebih luas hubungan Pribumi-Tionghoa, sejak jaman migrasi, penyeberangan budaya Dongson atau perunggu sampai kurun 70-an abad ini, meliputi pembauran di seluruh Indonesia telah ditulis oleh Yoe-Sioe Liem dalam karyanya Die ethnische Minderheit der Uberseechinesen im Entwicklungsprozess Indonesiens (Verlag Breitenbach, Saarbrucken, Fort Lauderdale, 1980). Bukankah dalam momentum pembauran purba budaya Dongson Jawa memiliki tangga nada selindro, karena datangnya melalui wilayah kedatukan Cailendra? Belakangan ini semakin banyak diterbitkan paparan tentang etnis Tionghoa di Indonesia, nampaknya kurang mendapat perhatian.

    Kurun perjuangan nasional dan saham etnis Tionghoa di dalamnya telah ditulis oleh Siauw Giok Tjhan sebagai pelaku sejarah. Tokoh luarbiasa di samping Siauw adalah Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa-Indonesia, September 1932. Ia menggalang kerjasama dengan para tokoh puncak gerakan kemerdekaan nasional pada masanya. Malahan sebagai pribadi, biar pun bukan hartawan, ia selalu memberikan bantuan yang mereka perlukan. Ia sejak semula menjadi penganjur hapusnya diskriminasi rasial untuk mempermudah dipupuknya rasa senasib antara semua putera Indonesia, termasuk etnis Tionghoa. Partai ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa organisasi, dengan catatan bahwa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia pada waktu itu sinonim dengan bahasa pers Melayu-Tionghoa, sekali pun di antara para anggotanya lulusan perguruan tinggi Belanda.

    Nasib dua orang pejuang gerakan kemerdekaan ini, yang pada masa kegiatannya, dua jendral besar Indonesia justru menjadi serdadu Knil, nyaris sama. Mereka juga menjadi kurban OrBa, menjadi bagian dari jutaan orang Indonesia yang jadi kurban OrBa. Mereka menjadi tapol OrBa. Bebas sebagai tapol pada 1 Mei 1979, ia meninggalkan Indonesia bermukim di Belanda dan wafat di sana. Liem Koen Hian sebagai tapol OrBa mengalami kekecewaan berat, karena sebagai tapol sama sekali tidak mendapat perhatian, jangankan pertolongan, dari tokoh-tokoh puncak semasa gerakan kemerdekaan nasional yang pernah dibantunya. Bebas sebagai tapol OrBa ia langsung menanggalkan kewarganegaraannya sebagai orang Indonesia, dan sejak itu tak pernah terdengar lagi kabar-beritanya.

    Di atas ini adalah kartu anggota Partai Tionghoa Indonesia atas nama Kho Sien Hoo, cabang Magelang, dengan tandatangannya sendiri dan tandatangan Liem Koen Hian, tertanggal 5 Januari 1933. Bukan suatu kebetulan kartu anggota Kho Sien Hoo direproduksi di sini, karena sejak berdirinya Partai Tionghoa Indonesia ia mulai bergabung dengan gerakan kemerdekaan nasional. Jadi hanya sebagai contoh di antara yang banyak yang kurang diketahui. Semasa revolusi ia menjadi komandan tertinggi Laskar Rakyat Magelang dan Kedu, bersama kesatuan BKR merampas senjata Nakamura Butai dan melawan Inggris-Ghurka dan Nica di Ambarawa pada awal revolusi.

    Ia mengubah namanya nenjadi Surjo Budihandoko tanpa melalui pengadilan. Dilahirkan pada 1905 ia wafat di Jakarta pada November 1969. Bintang-bintang pada dadanya adalah pengakuan resmi tentang jasa-jasanya pada tanahair dan bangsa.

    Bahwa yang dipampangkan di sini hanya Surjo Budihandoko bukan berarti hanya beliau yang berjasa pada tanahair dan bangsa Indonesia. Cukup banyak, diakui atau tidak jasa-jasanya. Makanya mengherankan bila terjadi kerusuhan rasial anti-Tionghoa. Celakanya justru yang terjadi pada penutup era OrBa, Mei 1998. Padahal justru semasa OrBa Pancasila diajarkan sejak dari SD sampai perguruan tinggi. Atau memang sudah diprogram jadi ajaran "Pancasila Bibir"? Mungkinkah Siauw Giok Tjhan dan Liem Koen Hian juga kecewa berat terhadap Pancasila "Bibir" ini sehingga yang pertama meninggalkan Indonesia dan yang kedua menanggaIkan kewarganegaraannya?

    Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan.

    Pada 1946 awal waktu saya naik keretapi Jakarta menuju ke basis militer di Cikampek. Di samping saya duduk seorang pemuda yang meminjami buku karya S. Soedjojono, pelukis nasional itu. Saya sudah lupa judulnya. Yang teringat dari bacaan itu hanya satu bagian kecil: tentang Mongoolse Vlek, tembong biru pada pantat atau bagian bawah lain dari bayi yang baru dilahirkan, satu isyarat bahwa si bayi punya darah Mongoloid atau darah Cina. Padahal bayi-bayi Indonesia yang berkulit sedikit lebih cerah dari coklat bertembong biru. Saya tidak tahu jawaban para anthropolog atau pun kedokteran tentang kebenarannya. Beberapa tahun kemudian seseorang mengatakan: sekiranya Hitler dalam, upayanya memurnikan darah Aria pada bangsa Jerman tahu tentang adanya Mongoolse Vlek alias tembong biru ini mungkin beberapa juta orang lagi akan dilikwidasi Nazi. Soalnya dalam abad 13 balatentara Kublai Khan bukan saja menyerang ke selatan sampai ke Singasari, ke timur sampai ke Jepang, juga ke barat sampai ke Eropa Tengah.

    Setelah Kublai Khan mendirikan pusat kerajaannya di Beijing bajak laut Cina mendirikan diaspora di Palembang. Beijing mengirimkan ekspedisi ke Palembang dan menangkap gembong bajak laut tsb. dan menghukum mati di Beijing, namun diaspora ini justru berkembang, bahkan menghasilkan seorang Jin Bun, yang kemudian menjadi raja Islam pertama di Demak. Percampuran darah dari koloni ini dengan penduduk membuahkan generasi dengan tubuh lebih tinggi dan kulit lebih cerah, menyebar sampai ke wilayah Lampung.

    Kalau benar tembong biru pada bayi pertanda ada darah Cina mengalir dalam tubuhnya apakah kerusuhan rasial 1998 masih tetap dapat dikatakan rasial? Ya atau tidak samasekali tidak penting. Setidak-tidaknya kerusuhan tsb. suatu kejahatan terhadap kemanusiaan, kebiadaban, siapa pun yang melakukannya dan siapa pun kurbannya.

    Akhirnya yang timbul hanya pertanyaan bagaimana mengakhiri kejahatan dan kebiadaban terhadap kemanusiaan ini? Saya hanya bisa menyarankan: giatkan penyebaran informasi yang menumbuhkan saling pengertian antara dua belah pihak. Antaranya menyebarluaskan karya Siauw Giok Tjhan dan lain-lain, dan terutama karya Siauw.


    Permalink - a0z0ra @ 2:11 PM  |   0 comments

    Thursday, August 28, 2003

    Wanita, anak perempuan dan sebuah roti 

    Suasana tegang dan rawan di sebuah pedesaan terpencil di negara Bosnia, negara penuh sengsara. Angin bertiup sepoi-sepoi di sebuah jalan gang kecil yang kotor, gang yang hadir di tengah dua gedung yang luluh lantak sejak setahun yang lalu. Tentu saja, tidak ada makhluk hidup yang bertempat tinggal di sana. Sepi sunyi menyayat sungguh sampai orang bisa bertanya di mana Tuhan.

    Jika kau buka mata, kau bisa dengar dari kejauhan langkah kaki terburu-buru mendekat dan memasuki gang itu. Jika kau buka telinga, kau bahkan bisa mendengar kaki mereka berteriak ketakutan.

    Terlihat seorang wanita Bosnia berjilbab, kira-kira 40 tahunan, berlari kesetanan. Di belakang wanita itu terlihat seorang anak perempuan berumur 10 tahun. Mereka memasuki gang berdebu dan dari sekujur tubuh mereka gemetar seraya terus mengayuh badan. Berlari-lari. Si anak tiba-tiba tersandung batu, meringkih dan wanita itu segera berbalik menolongnya, dan mereka lanjut berlari. Lari terus ke depan. Lari terus ibarat kijang yang sadar dirinya akan jadi santapan harimau lapar, tanpa sekalipun menoleh ke belakang karena lari adalah keinginan untuk hidup yang begitu kuat.

    Jika kau lihat, di tangan wanita itu tergenggam sebuah roti kecil. Wanita itu baru saja colong satu roti dari barak tentara kira-kira jaraknya 1 mile. Sejak penemuan barak ini seminggu yang lalu, biasanya pencurian selalu berhasil dan mereka berdua, wanita dan anaknya, bisa mengusir lapar yang memakan mereka, tapi kali ini peruntungan jalan kurang baik dan seorang tentara melabrak mereka.

    Dari kejauhan terdengar bunyi senjata. Jika kau ikuti bunyi itu, sumbernya berasal dari senapan sang tentara yang sumpah serapah dan menyuruh wanita-wanita itu berhenti melarikan diri. Setelah kau lihat wajah tentara itu, terlihat wajah yang teramat lelah dan letih dari perang beribu jagad. Dan lihat juga, dia bawa temannya satu lagi, yang wajahnya hampir tidak menyerupai manusia, satu mata hilang sungguhan satu matanya lagi hilang rasa hidup dan liar karena telah berburu sesama manusia dan hidup dari darah mereka.

    Barak para tentara itu sudah lama ditelantarkan oleh kantor pusat. Komunikasi rusak. Persediaan hidup kian menipis, juga air dan makanan. Satu demi satu teman mereka mati, dari kekurangan darah sampai sakit mental dan harus dibunuh supaya tidak mengancam orang lain. Lalu ada yang bunuh diri karena tidak mampu tahan penderitaan.

    Mereka kebetulan baru balik dari buang hajatnya ketika mereka bertemu dengan wanita dan anaknya itu di barak. Melihat mereka, dalam hitungan peluru wanita itu langsung berlari menarik anaknya secepat kilat keluar dari barak.

    Menghadapi kejadian ini, para prajurit lantas mengejar mereka. "Wanita!" Seru hati mereka ketika melihat Hawa dan begitu senangnya satu prajurit itu karena sebelumnya ia berdoa pada Tuhannya supaya kalaupun ia harus mati, ia ingin seks satu kali lagi. Mereka tahu bahwa wanita itu mencuri sebuah roti, tapi pikiran tentara-tentara yang sudah bosan dengan sodomi dan masturbasi lebih jalan ke arah yang berbeda.

    Tiba saatnya kita melihat lagi ke gang sempit. Si anak perempuan berusaha berlari dengan kaki terluka, namun tentara dan nafsunya kian mendekat dan berhasillah tangan si anak diraih. Dalam kepanikan dan deru jantung gila-gilaan, tangan si anak gemetar mengayunkan pisau dari ikat pinggangnya. Pisau Anak yang dari tadi dicari saat berlari meluncur darurat dan melayang tanpa arah. Sayang, lawan si Anak adalah orang terlatih dan pisau kemudian terbuang dengan mudahnya. Si anak memukul, menendang dan menggigit dan menarik dan kakinya terus berteriak "lari! lari!" dengan sisa-sisa keinginan hidup yang demikian kuat. Prajurit adalah harimau yang melemahkan korban dengan mencabik dan menerkam dan menyeret.

    Wanita itu dengan naluri ibunya berusaha menarik-narik kaki anaknya yang diseret. Tapi, prajurit yang lain menangkap sang ibu dan melemparkannya ke tembok gang, sehingga tembok yang tanpa warna itu sekarang merah. Tentara menggampar, menendang dan sampai wanita itu penuh dengan luka terbuka.

    Anak menjerit-jerit, suara tamparan dan robekan baju, dan suara tulang kecil yang patah entah apa entah di mana. Wanita yang lemah masih berusaha memukul-mukul prajurit dengan tangannya, sehingga prajurit itu harus menggetuskan kepala wanita itu ke tembok belakang. Darah mengucur dari kepala dan badan dan liang kemaluan. Harimau pun akhirnya makan setelah korban kehabisan tenaga.

    Beberapa waktu telah berlalu. Suasana masih sepi tegang, hanya debu di kejauhan menyayat. Semua orang bisa bertanya di mana Tuhan.

    Jika kau pejamkan mata, kau bisa dengar suara resleting celana dipasang dan suara darah mengalir. Tentara yang baru garap wanita berdiri dan mengusap keringatnya. Kemudian ia melihat ke arah mangsanya. Di dekat wanita itu ada roti yang kotor terkena darah dan tanah. Tentara itu merampas roti genggaman dan dengan segera mengunyah kelaparan. Setengah roti itu dia lemparkan kepada temannya yang juga kelelahan melampiaskan nafsu kepada anak perempuan.

    Isak tangis tergugu terdengar dari sang anak, namun lantas hilang. Lantas sang prajurit mengetes apakah si anak masih hidup, dan memanglah ia belum saatnya untuk mati. Tidur adalah pelampiasan terakhir si anak perempuan untuk hidup yang jahanam. Dengan mata yang terpejam sekali sang ibu melihat anaknya malang. Setitik air mata keluar dari mata yang terpejam kedua kali dan perut yang lapar kian mengerang-erang. Juga ia masih sadar dan dari matanya yang tertutup darah ia mulai sayup-sayup menerawang, mengejamkan kelopak matanya yang lengket dan ia pun tertidur dengan napas tersengal.

    (Di dalam mimpi mereka Tuhan menyanyikan lagu pengantar tidur dan memahkotai mereka dengan bunga padang, yang lampau menghiasi padang desa sebelum perang).



    Permalink - a0z0ra @ 12:54 AM  |   0 comments

    Monday, August 25, 2003

    Mending banyak ketawa atawa banyak prihatin? 

    Ketawa bikin seneng banget, bisa muji2 Tuhan thanks buat hari yang indah. Tapi kalo prihatin juga komunikasi sama Tuhan biar bisa tambah ngerti ttg penderitaan. Yesus itu banyakan ketawa atawa sedih2 ya? Jokenya Yesus apa aja yaa?

    Yang pasti saya seneng banget ketawa-ketawa. Gak terlalu banyak pikiran. Bisa awet muda.

    *Ngeliat cermin* Arghh.. Wrinkle2 arggghhh....


    Permalink - a0z0ra @ 7:43 PM  |   0 comments

    Saturday, August 23, 2003

    The war 

    Kencangkan tali perangmu, pegang pedangmu dan siapkan hatimu

    "Okay, bring it on!"
    Arghh! Paw! Slice! Ouch! Alas! Kyaa... Hey, it hurts! Take this! Punch! Scratch!

    ...

    After a while..
    Terseok-seok, ompong dan terluka parah, pedang jadi tongkat penyangga badan
    Kalah? Menang?

    We fought the battle, that's the most important thing
    Everything else is God's will


    Permalink - a0z0ra @ 7:10 PM  |   0 comments

    Tuesday, August 19, 2003

    Camping trip 

    BTW, lupa ngomong soal camping trip. Tripnya sukses berat menurut standard (minus perjalanan yang bujubuneng jauhnya, ibarat pergi ke san diego), terutama makanan dan cuaca. Cuaca sangat oke, gak panas gak dingin kelewat dan gerimis pas kita pulang supaya buru-buru berangkat. Makanan? Nomer satu! Marshmallow, yang tadinya dipikir kebanyakan, habis total. Babi yang keliatannya agak repot ngabisinnya, ternyata habis juga (mungkin karena bumbu ala Lina yang oke berat! Ada yang bilang kepedesan, tapi justru gara2 itu jadi pada napsu makan). Jagung berlimpah juga disikat. Apa lagi? Bakpau juga ternyata sempet dimakan. Hmm.. pada kelaparan kali.

    Bintangnya lumayan, walau gak sempet ngeliat bintang jatuh. Danaunya juga lumayan, sampe ada acara lempar batu dan diskusi udang karang (?). Sempet juga liat binatang2 ibarat safari alam: kupu2 ketabrak, chipmunks, kijang, elang, burung biru aneh dan (!) beruang hitam.

    Tapi yang paling penting, orang-orangnya mendukung semua acaranya. Mungkin karena tingkat kebersamaan yang cukup tinggi rasa canggung bisa dibilang sangat rendah, bahkan ada anak Wisconsin satu pun dianggap lumayan kenal.

    Dodo kadang komentar: "Di Indo banyak yang kayak gini" ttg ladang bunga dan danau indah, lalu kita diskusi mengapa camping di Indo bisa ttg hidup dan mati (seru juga, tapi serem dan saya bukan penggemar horor). Sayang sekali. Sebenarnya enggan menikmati Indo itu gara2 pengalaman kita yang pahit: Diskriminasi dan rasa aman. Ingat guru SMA yang hobi keliling Indonesia, travel sampe ke Irian Jaya en Aceh juga Maluku. Para murid mendengar cerita2nya dengan takjub, lalu kita pernah berandai2 punya pengalaman seeksotik ibu guru itu. Lalu kepikiran, hmm... aman gak? Naek apa ke sono - masa naek Merpati yang notabene safetynya di bawah 70%? Trus - beneran worthed gak sih, kalo gak banyak yang tau kok agak males ya? Akhirnya liburan panjang jalan2 ke Puncak jua, atawa ke Singapura dan USA.

    Nomer satu: aman. Habis aman: Transportasi yang bener. Habis Transportasi: Marketing en Travel Agent yang bener. Lalu semua bisa hepi camping liat bintang liat bulan.


    Permalink - a0z0ra @ 2:42 AM  |   0 comments

    Sunday, August 17, 2003

    Soal fokus 

    Sempet marah-marah juga dipendem kemaren (dikeluarin sih, lewat ini blog). Permasalahannya sih gini:
    1) Ada gossip entah bener entah salah bahwa ada believer bakalan kawin sama non-believer
    2) Jadi rame gara-gara non-believer, trus diceramahin pentingnya kawin dengan yang "sehati dan seiman"
    3) Orang tua gue salah satunya non-believer waktu kawin, trus nekat kawin juga
    4) Kalo salah satu ortu yang believer dengerin kata orang-orang yang hobi ceramah ttg Allah naek Merci pake cincin berlian gede-gede, saya en nci gak bakalan lahir

    Kesimpulan: oke, ada apa dengan hukum yang ini? Baiknya ada, kalo yang satu kelewatan fanatik mungkin yang satu bakalan stress kalo gak sefanatik yang sono, karena itu lebih baik kalo yang fanatiknya kelewatan mikir2 dulu untuk kawin sama yang gak fanatik. Permasalahan psikologis. Kalo dua2nya gak merasa bakalan pusing ttg kefanatikan agama setelah pacaran demikian tahun, ada satu faktor yang dilupakan: Tuhan.

    Fokus ke hal yang simple macam gini jadi gede segede gunung/gajah/gaban! Heran.. padahal bukannya masih banyak hal yang lebih mendesak? Wong dia itu sudah punya Tuhan, kok ya gak ngurusin orang yang blon punya Tuhan dulu? Argh.. masalah prioritas ini, masak gak ada yang ngerti?

    Para fanatik itu memang agak-agak mengerikan soal fokus, mereka suka kehilangan diri dan tempat. Orang-orang Farisi adalah orang-orang yang paling baik pengetahuannya soal hukum Taurat (bahkan Yesus mengakui), tapi mereka gak mao membuka hati, terpaku pada buku. Paus gila jaman Perang Salib jaman Reformasi salah ambil tindakan untuk fanatik yang salah, korbannya coreng-moreng segede Gaban sampe sekarang di Gereja Katolik. Para pendeta pemilik slaves en KKK hobi perang hobi bunuh orang teriak "hitam! hitam!" karena kelewat fanatik herannya pegang Buku bisa salah lagi. Seram semuanya. Jangan pake Buku buat nafsu fanatik kamu.

    Marilah kita sama-sama diingatkan. Soal ke depan biar Tuhan saja yang tahu.


    Permalink - a0z0ra @ 11:30 PM  |   0 comments

    Friday, August 15, 2003

    Lagi-lagi Puisi 

    Bongkar-bongkar puisi di komputer, ketemu ini:

    Kisah Waktu dan Rindu

    Habis mendengar keluhanmu saya teriak sialan! sialan!
    Karena jauh dari tanah air dan makin asing dengan diri sendiri
    Apakah masih Indonesia? Masih teringat mereka?
    Masih ada rasa cinta dan sayang?

    Semakin hari kejar! kejar! semua nikmat duniawi dan "asal aman" "asal senang"
    Mungkin kelak bisa beli mobil sport keren rumah sendiri di awang-awang dan ada kolam renang!

    Sialan! sialan!
    Habis mendengar keluhanmu saya jadi kecil meringkik
    tambah gemuk tambah tambun tambah melebar-lebar
    mataku tambah sipit tambah pelit makin segaris sampai habis

    Kadang suka sayang mengapa saya tinggalkan abang negeri buangan
    Tapi abang gak pernah sayang! Saya ditampar berulang-ulang!

    Juga cinta itu cuma perasaan keras kepala. Kapan hilang?

    Saya kurang berjuang untuk si abang malah hedon di negeri orang
    Tiap hari makin putih makin bersih makin tinggi

    Gawat! Gawat! Gawat! Bukan begini maksud saya bukan begini
    Harusnya saya segera pulang kunjungi

    Tapi hedon mengetuk pintu tiap pagi, dan godaan terlampau besar
    kian melayang impian bahkan rindu itu juga terkikis pelan-pelan

    Fanny @ July 2003


    Permalink - a0z0ra @ 3:18 PM  |   0 comments

    Fokus macem apa tuh? 

    Apaaaaa Siiihh??? Kenapa Musti Pusing Ada Believer Bakalan Kawin Sama Non-Believer? (Buang tuh Buku! Tau2 silakan lempar ribuan verses, I know it is there)

    Nongkrong Sana! Pulang Indo! Liat Orang-Orang Banyak Yang Masih Blon Bisa Makan! Ada di Mana Loe? Ada Di Mall Lagi Borong Blanjaaannn??? Ada Di Restoran Lagi Ngajak Ngomong2 soal "HOW GOOD LORD IS?" Lagi Kasih Buku Bagus Supaya Dibaca Nambah Iman, Nambah Kerjaan Baca Di Rumah Biar Tumpukin Semua Otak Loe Buat Bersyukur?

    BAKA - BAKA - BAKA - BAKA - BAKA - BAKA - BAKA - BAKA


    Permalink - a0z0ra @ 2:41 PM  |   0 comments

    Hobi orang Kristen adalah BerSyuKur 

    Siapa sih yang gak pernah post email ttg bersyukur pada Tuhan atas segala limpah ruah manna enak sedap asiiikk...? Atawa kalo ada cobaan dan udah lewat trus thank you.. thank you.. thank you?

    Jaman Dulu, ketika 12-years-old Fanny lagi asik melamun (hobi yang kurang baik) di jalanan glodok yang rame trus ampir setiap saat macet, tiba-tiba ada mobil di samping kiri melaju dan Fanny gak liat itu mobil. Pas sadar, kaki Fanny udah ciuman sama bemper depan mobil itu. Teennn.. teeenn... Teeeeennnnn.... si pengendara mobil marah2 neken klakson. Hoki Fanny kegedean, rasanya pasti ditabrak gitu tapi herannya masih bisa jalan. Mobil melaju ngeliatin sebel. Fanny deg-degan sambil otomatis ngucapin Salam Maria berkali-kali. Tiba-tiba inget Tuhan, otomatis doa jalan kayak rosario, kebiasaan.

    Yep-yep-yep. Sepanjang jalan kita akan terus bersyukur atas segala macam. Tapi masalahnya, kenapa juga jadi terlalu hobi bersyukur dan berterima kasih dan gak kedengeran "pay it forward"? Bersyukur atas semua segala dan sepanjang jagad, tapi kalo senyam-senyum mlulu bersyukur sambil hedon-hedon juga rada bersalah. Need to do something other than preaching to people about how nice God is. Need to be like Mother Teresa (in the extreme), not like Billy Graham (Yes, he is such a good preacher, but alas he's preaching to the brain not to the heart). Dang.


    Permalink - a0z0ra @ 2:26 PM  |   0 comments

    Friday, August 08, 2003

    Cina.. Cinaa.. Cinaaaaaa..... 

    Bangun tidur sadar saya Cina. Ngeliat kaca tambah jelas saya Cina. Ngeliat foto-foto saya mayoritas orang Cina. Ngeliat kulkas mayoritas bahan masakan Cina. Senyum-senyum kemaren inget karaokean pake lagu Cina - agak parah.

    Ke sekolah ketemu Cina pake kacamata. Cina-cina jalan-jalan bareng orang Cina, orang India, orang Amerika, orang Indonesia.
    Cina-cina naek sepeda, naek motor, naek mobil, naek truk, naek jet.

    Cina-cina cakap-cakap bahasa Cina. Cina-cina cakap-cakap bahasa Inggris. Cina-cina cakap-cakap bahasa Espanola. Cina-cina cakap-cakap bahasa Indonesia.

    Man! Cina di mana-mana!

    Kelak kita akan merajai Dunia! Ha-ha-haa!!!

    NB: according to reliable sources, there is one Chinese out of six people chosen randomly.


    Permalink - a0z0ra @ 2:19 PM  |   0 comments

    Tuesday, August 05, 2003

    Indonesia beku 

    Rupanya cuma kita yang tahu, kata saya
    Mengapa pikiran keras kepala dan rindu melulu
    pada tanah yang asing, juga penduduk yang asing

    Tetap berbahasa Indonesia, keluh saya
    juga karena kebiasaan? Bukan rindu juga
    mungkin nanti sudah tiada rindu itu, hilang beserta kabut
    dan negara itu cuma kenangan selama mengembara di sana

    Karena rindu itu adalah suatu pikiran yang keras kepala
    Sesampai di sana jadinya bungkam dan malu-malu, tidak bisa bersatu
    karena Indonesia sama seperti cinta 1/2 tangan
    yang tak pernah sampai, dan mengawang-awang

    Wahai!
    Indonesia adalah negara asing juga
    Pengembaraan seumur hidup, pengenalan sepanjang jalan
    Tetap tidak mengerti deru napasmu
    Di sekujur badan Indonesia adalah kepenatan yang amat sangat
    Dan cinta terhadap Indonesia lahir dari kekeraskepalaan
    (dan cuci otak berulang-ulang?)

    Karena Indonesia adalah negeri usang
    Sudah cukup kita diserang? Bukan juga negeri kami!

    Ketika aku ditanya "where are you from?"
    Saya harus jawab: "Indonesia"
    Dan kemudian pikiran melayang ke negeri orang, asing dan cinta 1/2 tangan
    Belum pernah kenal anda
    Cuman sebatas nama dan keluarga!

    Tidak pernah bisa mengerti Indonesia! keluhku
    dan para imigran cina berebut keluar dari negeri penuh duka
    Air mata adalah darahmu, dan isak tangis nyanyianmu
    Lolonganmu adalah seruan maghrib, meronta-ronta pada Allah

    Tidak juga. Cina Indonesia adalah Orang Cina berbahasa Indonesia.
    Kecintaan pada Indonesia adalah kekeraskepalaan belaka

    Kelahiran di Indonesia adalah sebuah kutukan dan memang kebetulan

    (Atau bukan?)


    Permalink - a0z0ra @ 12:40 AM  |   0 comments

    Nag.. nag.. nag.. 

    Is it me, the damn proud girl, or is it a combination of my background life, my interest in religion and the Mute One, and everything else that they called it "Holy Spirit?"

    I'm very lazy if it comes to reading Bible. I don't like reading it. I have two or three nearby, and even I have a mini-version one in my purse. But it's just there's no passion to read it.

    I have this curse of longing to do something for someone. It showed up nearly every goddamn day I breath. But I just a loser, a manipulator, an asocial and useless-for-nothing person.
    I can't even make people happier or makes a good jokes, not a sarcastic one.

    The only good thing for me to do is make them even sadder. Yeah. Just like they need more of it, really.

    I want to be resourceful. I want to be funny. I want to make people happy. But how can I make people happy if I cannot make myself feel that way? My eyes is the mirror of sadness which is another curse of mine. I feel like I want to blame the Mute One for the curse.

    I cannot play with verses in the bible. Sorry for not as religious as those people. I want to. Really. I kinda tried, but probably I'm just still a goddamn proud girl which is destined to be depressed for the rest of her life. And to think of it, I don't have what it takes to feel that desperate.

    God help me, will ya! Just another sad little spoiled brat crying up high just to hear her mama's voice.

    "Damn it! I need some rest" Mama's sleepy eyes trying to argued. Perhaps?


    Permalink - a0z0ra @ 12:38 AM  |   0 comments

    syndicate me

    XML +del.icio.us

    Subscribe with Bloglines

    search
    Google

    twitter updates!
    follow me on Twitter


    hore!
  • Blogger Indonesia of the week #43
    by A. Fatih Syuhud

  • Pak Gendut & Madona
    published short story

  • Graffiti Gratitude
    published poems

  • nyang okeh
  • Doa Orang Hedon
  • Indonesiaku Indonesia kartupos
  • POWER
  • Agama Segala Bangsa
  • The Celebration of Nothingness
  • Proses Mengulur
  • Gombal
  • Pengharapan
  • Dimana garisnya
  • O, kalian yang tulus dan teguh dalam kesucian
  • Jalankan dan teruskan!
  • Balada si Jelek
  • Cantik itu Relatif?
  • Suara dari Kelompok Lain
  • Misconception about Orang Cakep & Kaya

  • jaman baheula
  • April 2003
  • July 2003
  • August 2003
  • September 2003
  • October 2003
  • November 2003
  • December 2003
  • January 2004
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • July 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • November 2006
  • December 2006
  • January 2007
  • February 2007
  • March 2007
  • April 2007
  • May 2007
  • June 2007
  • July 2007
  • August 2007
  • September 2007
  • October 2007
  • November 2007
  • December 2007
  • January 2008
  • February 2008
  • March 2008
  • April 2008
  • May 2008
  • June 2008
  • July 2008
  • August 2008
  • September 2008
  • October 2008
  • November 2008
  • February 2009
  • March 2009
  • April 2009
  • May 2009
  • June 2009
  • July 2009
  • August 2009
  • September 2009
  • October 2009
  • November 2009
  • December 2009
  • January 2010
  • February 2010
  • March 2010
  • April 2010
  • May 2010
  • June 2010
  • August 2010
  • September 2010
  • December 2010
  • June 2011
  • May 2013
  • December 2014
  • January 2015
  • November 2016
  • January 2017
  • February 2017
  • March 2017
  • April 2017
  • May 2017
  • June 2017
  • July 2017
  • August 2017